Apa itu angka desimal, heksadesimal, dan biner?
Sistem desimal adalah sistem bilangan berbasis-10 yang digunakan sehari-hari. Sistem ini menggunakan sepuluh digit: 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9.
Sistem heksadesimal berbasis-16. Sistem ini menggunakan digit 0–9 serta huruf A, B, C, D, E, dan F, di mana A bernilai 10 dan F bernilai 15.
Sistem biner adalah basis-2 dan hanya menggunakan 0 dan 1. Komputer menggunakan sistem biner secara internal, sedangkan heksadesimal sering digunakan sebagai cara yang ringkas untuk menulis data biner.
Cara mengonversi desimal ke heksadesimal
Untuk mengonversi desimal ke heksadesimal, bagi secara berulang angka desimal tersebut dengan 16 dan catat sisa pembagiannya. Sisa dari 10 hingga 15 diubah menjadi A hingga F.
462 ÷ 16 = 28 sisa 14 = E
28 ÷ 16 = 1 sisa 12 = C
1 ÷ 16 = 0 sisa 1
Hasil: 1CE₁₆
Jadi desimal 462 dikonversi ke heksadesimal 1CE.
Cara mengubah desimal ke biner
Untuk mengonversi desimal ke biner, bagi secara berulang angka desimal tersebut dengan 2 dan catat sisanya. Hasil binernya adalah sisa-sisa yang dibaca dari bawah ke atas.
42 ÷ 2 = 21 sisa 0
21 ÷ 2 = 10 sisa 1
10 ÷ 2 = 5 sisa 0
5 ÷ 2 = 2 sisa 1
2 ÷ 2 = 1 sisa 0
1 ÷ 2 = 0 sisa 1
Hasil: 101010₂
Jadi desimal 42 dikonversi ke biner 101010.
Kapan konversi desimal ke heksadesimal berguna
Konversi desimal ke heksadesimal umum digunakan dalam pemrograman, debugging, nilai warna, alamat memori, titik kode Unicode, dan inspeksi data tingkat rendah.
Sebagai contoh, desimal 255 adalah FF dalam heksadesimal. Dalam kode warna RGB, FF mewakili nilai maksimum dari sebuah saluran warna.
Aturan input
- Gunakan angka 0–9 untuk input desimal.
- Koma, spasi, dan garis bawah diabaikan agar lebih mudah dibaca.
- Angka bulat didukung. Pecahan sengaja tidak dikonversi oleh alat ini.
- Bilangan bulat negatif didukung, seperti -462.